Awas bahaya oral sex,…!!!

Rabu, 27 April 2011


          Saat ini gaya pacaran masyarakat sudah di luar jalur yang semestinya, Bagi masyarakat muslim khususnya, pacaran tidak dibenarkan karena lebih banyak mudarat nya daripada manfaatnya. Jika alasan untuk mengenal lebih dekat dijadikan sebagai tameng untuk melegalisasikan pacaran, saya rasa alasan tersebut sangat tidak tepat. Membangun suatu hubungan bukan berarti mencari kecocokan di antara pasangan tetapi lebih ke arah bagaimana kedua belah pihak bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing agar dapat menjalani hidup lebih baik.

        Mengapa pacaran dikatakan lebih banyak mudaratnya? Pacaran adalah sebuah hubungan “ingin nikmat tapi tak bertanggung jawab”. Hubungan itu memang mengikat kedua belah pihak, tapi sangat jauh tidak erat daripada ikatan perkawinan. Buktinya banyak, simple saja, jika seseorang sudah mulai bosan dengan pasangannya, dengan mudah ia mengatakan ‘kita putus saja’ setelah itu permasalahan selesai. Padahal jika dipikir lebih jauh lagi, pastinya saat pacaran banyak kemudaratan yang dilakukan, mungkin “paling” ciuman—meskipun sesungguhnya pegangan tangan antarlawan jenis saja tidak boleh dalam aturan Islam. Pada kenyataannya, di masyarakat, gaya pacaran sudah berubah drastis ke arah yang sangat mengiris dada. Ciuman sudah dianggap hal yang tidak tabu lagi, hal yang ringan dalam pacaran, dan dianggap wajar oleh sebagian besar kaum remaja yang sedang berpacaran. Padahal, hal itu tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam dan adat budaya Timur kita.

        Malahan pada zaman ini, sudah banyak terjadi gaya pacaran yang mengarah pada hubungan seks dan yang paling digemaari adalah gaya seks oral. Mengapa demikian? Jelas saja karena gaya seks oral ibaratnya sama seperti melepas tanggung jawab, seperti yang dikatakan sebelumnya: “ingin nikmat tapi tak bertanggung jawab”. Selain itu, oral seks tidak menyebabkan kehamilan karena tidak ada penetrasi penis ke dalam vagina. 
Oral seks sendiri adalah aktivitas seksual menggunakan mulut, termasuk lidah, gigi, serta tenggorokan untuk merangsang organ intim. Pada pria disebut felatio dan pada wanita disebut cunnilingus.
Penelitian lainnya, terlihat ada korelasi antara oral seks dan kanker tenggorokan serta kanker leher.Hal ini diyakini dengan terjadinya transmisi dari HPV–virus yang mayoritas menyebabkan kanker leher rahim, terdeteksi juga terjadi pada orang yang melakukan oral seks.
source : http://muhsinlabib.wordpress.com/2007/11/14/ketangkep-nyabu-lagi-roy-marten-nyengir/

        Oral seks merupakan gaya hubungan seks tanpa persetubuhan (intercourse) secara langsung atau tanpa penetrasi penis ke dalam vagina. Oral seks berhubungan dengan ciuman. Namun, tentu saja gaya oral seks masih tetap dapat mendatangkan penyakit kelamin seperti gonorhoe, sifilis, herpes, kanker mulut, kanker tenggorokan, dan HIV AIDS. Tentu saja kemungkinan hal tersebut dapat terjadi karena jika mulut dalam keadaan tidak sehat, seperti sedang luka atau sariawan, virus dari alat kelamin dapat menginfeksi luka tersebut dan akhirnya virus masuk ke jaringan pembuluh darah yang disebarkan ke seluruh tubuh. Inilah yang menjadi penyebab penularan penyakit kelamin. 
Hal ini tentunya lebih memiliki resiko terjangkitnya Penyakit Menular Seksual (PMS) yang lebih besar.
Hal ini disebabkan karena mulut manusia rentan terhadap serangan bakteri dan virus sehingga memudahkan terjangkitnya PMS melalui organ ini. Beberapa penyakit yang dirtularkan melalui kontak mulut dan alat kelamin di antaranya, yaitu klamidia, herpes genitalis, gonore, hepatitis B, HIV dan kutil.


        Beberapa ahli menyebutkan ada beberapa cara untuk menghindarinya, seperti dengan menjaga kesehatan mulut sebelum berhubungan atau menggunakan semacam selaput yang diletakkan di mulut sebelum melakukan oral seks. Namun, tetap saja hal tersebut tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Mengapa? Seperti yang kita ketahui bahwa ukuran virus sangat kecil sekali dan tentu saja kemungkinan dapat melewati selaput yang telah dijelaskan sebelumnya.

        Yang terpenting adalah bagaimana Anda menyikapi hal ini. Manusia adalah manusia berbudaya, yaitu memiliki akal dan pikiran untuk memilih mana yang salah dan mana yang benar. Manusia selalu memiliki pilihan dan semua itu tergantung bagaimana kita bisa berpikir untuk memilih yang tepat dan benar. 

                                                                                                                                                       

0 komentar:

Posting Komentar